![]() |
| Sholat Jama'ah |
- Shalat berjamaah adalah shalatyang dilakukan secara bersama-sama. Orang yang memimpin shalat, yang berdiri paling depan, disebut imam. Sedangkan yang ada di belakangnya, yang dipimpin, disebut makmum. Shalat berjamaah paling sedikit dilakukan oleh 2 orang. Yang satu bertindak sebagai imam, dan yang satu lagi sebagai makmum. Sedangkan hukumnya adalah sunat muakkad. (Pendapat lain mengatakan fardhu kifayah).
- Posisi makmum dalam shalat berjamaah.
Dalam shalat berjama'ah, posisi makmum diatur seperti berikut:
a. Jika makmum hanya sendiri, maka posisinya di sebelah kanan imam dan agak mundur sedikit (supaya berbeda dengan posisi imam). Jika ada orang lain yang datang, maka sebaiknya ia mengambil tempat di sebelah kiri imam. Jika ia telah mulai takbir, maka imam maju ke depan, atau kedua makmum itu mundur ke belakang, dengan gerakan (langkah) yang ringan.
b. Jika makmum terdiri atas beberapa shaf (barisan) dan meliputi laki-laki dewasa, anak-anak dan wanita, maka posisinya adalah di belakang imam shaf laki-laki dewasa, di belakang laki-laki dewasa ditempatkan anak-anak, dan di belakang anak-anak ditempatkan kaum wanita. Jadi kaum wanita ditempatkan paling belakang.
Dalam shalat berjamaah ini, shaf (barisan) hendaklah diluruskan dan dirapatkan. Jangan ada celah-celah atau renggang, karena setan akan masuk di antara celah-celah itu. Hal ini semua sangat berpengaruh terhadap kesempurnaan shalat berjamaah yang dilakukan.- Adab bagi imam sholat
a. Dalam shalat berjamaah imam hendaknya meringankan bacaan (jangan membaca surat yang terlalu panjang), karena mungkin saja di antara makmumnya itu ada anak-anak, orang yang sudah tua renta, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan.
b. Imam hendaknya jangan bertakbiratul ihram sebelum muadzin selesai mengumandangkan iqamah.
c. Imam hendaknya jangan bertakbiratul ihram sebelum makmum merapatkan dan meluruskan shaf (barisan).
d. Pada saat takbir, baik takbiratul ihram maupun takbir intiqal, hendaknya imam mengeraskan suaranya.
e. Imam hendaknya mengeraskan bacaan surat Al-Fatihah dan surat-surat lainnya pada shalat subuh, dua rakaat pertama dari shalat maghrib dan isya, shalat Jum'at, serta shalat sunat tertentu yang dilakukan dengan berjamaah, di antaranya shalat Idul Fitri dan shalat Idul Adha, shalat tarawih, witir pada malam Ramadhan, dll.
f. Setelah membaca Al-Fatihah, sebelum membaca surat-surat lainnya, sebaiknya imam diam sejenak guna memberi kesempatan kepada makmum membaca surat Al-Fatihah, sehingga pada saat imam membaca surat, mereka dapat mendengarkannya.
g. Setelah salam, hendaknya imam diam sejenak, lalu menghadapkan wajahnya kepada makmum yang adadi belakangnya. Jika di antara makmum ada kaum wanita, maka imam tak usah menghadapkan wajahnya kepada makmum.- Syarat sah mengikuti imam
a. Makmum wajib berniat mengikut imam. Jadi dalam niat shalatnya ditambah kata "MA'MUUMAN" ('Mengikut Imam'). Sedangkan bagi imam, niat 'menjadi imam' adalah sunat. Dengan demikian, jika imam tidak berniat 'menjadi imam' shalatnya sah, tetapi ia tidak mendapat pahala dan keutamaan shalat berjamaah. Jadi sebaiknya imam pun melakukan niat, agar shalatnya itu tidak dinilai shalat munfarid (sendirian).
b. Makmum harus mengikuti gerakan imam dan gerakannya itu tidak mendahului gerakan imam. Misalnya setelah imam selesai takbiratul ihram, makmum baru memulai takbiratul ihram. Begitu pula gerakan-gerakan shalat lainnya.
c. Makmum mengetahui gerakan-gerakan imam, baik melihatnya secara langsung, melalui orang yang ada di sebelahnya, atau barisan yang ada di depannya, maupun mendengar suara imam atau mubalignya (orang yang menyambung suara imam pada setiap pergantian rukun supaya terdengar oleh makmum yang ada di barisan belakang).
d. Posisi makmum (tumitnya) tidak boleh lebih maju daripada posisi (tumit) imam.
e. Makmum dan imam harus berada dalam satu tempat
f. Shalat makmum dan imam harus sama, yaitu sama-sama mengerjakan shalat zhuhur, ashar dan lain-lain.
g. Jika makmum shalat di luar mesjid sedangkan imamnya di dalam mesjid, maka harus mengikuti ketentuan berikut:
- Jarak antara makmum dan imam tidak lebih dari 300 hasta (± 144 m). Jarak ini dimulai dari akhir mesjid.
- Makmum dapat mengetahui shalat imam.
- Antara imam dan makmum tidak ada pemisah- Makmum yang masbuk
Masbuk adalah makmum yang datang terlambat dalam shalat berjamaah, baik satu rakaat maupun lebih. Bagi makmum yang masbuk ini ada ketentuan khusus yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Jika pada saat ia tiba, imam sedang ruku, dan ia masih sempat ruku bersama imam, maka berarti ia sudah mendapat rakaat tersebut, walaupun belum sempat membaca Al-Fatihah.
b. Jika ia tidak sempat ruku bersama imam, atau ia memulai shalat setelah imam ruku, maka ia harus mengulangi rakaat tersebut, karena belum sempurna. Jadi setelah imam memberi salamke kanan dan ke kiri, ia harus bangun untuk menyempurnakan rakaat yang masih kurang tadi.
c. Jika pada saat ia tiba imam sedang tasyahud akhir, maka ia, setelah takbiratul ihram, langsung duduk untuk ikut ta-syahud bersama imam. Jika imam telah memberi salam ke kanan dan ke kiri, maka ia langsung berdiri untuk menyempurnakan shalatnya sesuai dengan jumlah rakaat dari shalat yang sedang ia kerjakan, karena rakaat yang tadi ia ikuti belum dianggap sah. Akan tetapi ia sudah dianggap ikut berjamaah, dan akan memperoleh keutamaan shalat berjamaah.
d. Bagi makmum yang masbuk, jika masih harus menyempurnakan rakaatyang kurang, pada saatimam duduk tasyahud akhir, sebaiknya ia duduk iftirasy (duduk tasyahud awal) dan hanya membaca tasyahud awal.
e. Bagi makmum yang masbuk, jika pada saat ia tiba shaf (barisan) telah penuh, maka ia tidak boleh membuat barisan seorang diri. Dalam keadaan seperti itu ia harus memilih, masuk ke dalam barisan itu atau memberi isyarat kepada salah seorang yang ada dalam barisan itu untuk mundur. Orang yang diberi isyarat, pada saat makmum masbuk telah mulai membaca takbiratul ihram, harus mundur dengan langkah yang ringan dan tidak berturut-turut.
f. Bagi makmum yang masbuk, jika pada saat ia tiba imam sedang membaca surah, atau menurut perkiraannya sebentar lagi imam akan ruku, maka setelah niat dan takbiratul ihram, ia sebaiknya langsung membaca Al-fatihah tanpa membaca doa iftitah, karena membaca doa iftitah hukumnya sunah, sedangkan membaca Al-Fatihah rukun.- Yang boleh menjadi imam sholat
Orang-orang yang diperbolehkan menjadi imam adalah:
a. Qari (orang yang bacaan Al Qur'annya fasih, baik tajwid maupun makharijul hurufnya diucapkan dengan tepat).
b. Laki-laki, jika makmumnya terdiri atas laki-laki saja, atau perempuan saja, atau banci saja, atau mereka bersama-sama.
c. Perempuan, jika makmumnya terdiri atas perempuan saja.
d. Banci, jika makmumnya terdiri atas perempuan saja.
Khusus untuk keterangan point d diatas ini (Banci) adalah Orang yang mempunyai kelamin 2 dari bawaan lahir, walaupun dia memilih menjadi wanita karena didalam orang tersebut lebih banyak sifat kewanitaannya, maka dia hanya boleh meng imami kaum wanita saja, tapi dengan syarat point sebelumnya sangat diperhatikan.- Yang tidak boleh menjadi imam sholat
Orang-orang yang tidak boleh menjadi imam adalah :
a. Orang yang ummi (orang yang kurang baik bacaan Al Qur'annya), sedangkan makmumnya qari.
b. Banci, jika makmumnya terdiri atas laki-laki saja, atau banci saja, atau mereka bersama-sama.
c. Perempuan, jika makmumnya terdiri atas laki-laki saja, atau banci saja, atau mereka bersama-sama.
- Shalat-shalat yang disunatkan berjamaah
a. Shalat Fardhu (tapi jika untuk kaum Muslim hukumnya wajib)
b. Shalat Jenazah
c. Shalat Idul Fitri
d. Shalat Idul Adha
e. Shalat Tarawih dan Witir pada bulan Ramadhan
f. Shalat Istisqa (Meminta Hujan)
g. Shalat Kusuf (Gerhana Matahari)
h. Shalat Khusuf (Gerhana Bulan)
A. Definisi & Pengertian Sholat Fardhu / Wajib Lima Waktu
Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratkan yang ada.
B. Hukum, Tujuan dan Syarat Solat Wajib Fardhu 'Ain
Hukum sholat fardhu lima kali sehari adalah wajib bagi semua orang yang telah dewasa atau akil baligh serta normal tidak gila. Tujuan shalat adalah untuk mencegah perbuatan keji dan munkar.
Untuk melakukan shalat ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dulu, yaitu :
1. Beragama Islam
2. Memiliki akal yang waras alias tidak gila atau autis
3. Berusia cukup dewasa
4. Telah sampai dakwah islam kepadanya
5. Bersih dan suci dari najis, haid, nifas, dan lain sebagainya
6. Sadar atau tidak sedang tidur
Syarat sah pelaksanaan sholat adalah sebagai berikut ini :
1. Masuk waktu sholat
2. Menghadap ke kiblat
3. Suci dari najis baik hadas kecil maupun besar
4. Menutup aurat
C. Rukun Shalat
Dalam sholat ada rukun-rukun yang harus kita jalankan, yakni :
1. Niat
2. Posisis berdiri bagi yang mampu
3. Takbiratul ihram
4. Membaca surat al-fatihah
5. Ruku / rukuk yang tumakninah
6. I'tidal yang tuma'ninah
7. Sujud yang tumaninah
8. Duduk di antara dua sujud yang tuma'ninah
9. Sujud kedua yang tuma'ninah
10. Tasyahud
11. Membaca salawat Nabi Muhammad SAW
12. Salam ke kanan lalu ke kiri
D. Yang Membatalkan Aktivitas Sholat Kita
Dalam melaksanakan ibadah salat, sebaiknya kita memperhatikan hal-hal yang mampu membatalkan shalat kita, contohnya seperti :
1. Menjadi hadas / najis baik pada tubuh, pakaian maupun lokasi
2. Berkata-kata kotor
3. Melakukan banyak gerakan di luar sholat bukan darurat
4. Gerakan sholat tidak sesuai rukun shalat dan gerakan yang tidak tuma'ninah.
Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratkan yang ada.
B. Hukum, Tujuan dan Syarat Solat Wajib Fardhu 'Ain
Hukum sholat fardhu lima kali sehari adalah wajib bagi semua orang yang telah dewasa atau akil baligh serta normal tidak gila. Tujuan shalat adalah untuk mencegah perbuatan keji dan munkar.
Untuk melakukan shalat ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dulu, yaitu :
1. Beragama Islam
2. Memiliki akal yang waras alias tidak gila atau autis
3. Berusia cukup dewasa
4. Telah sampai dakwah islam kepadanya
5. Bersih dan suci dari najis, haid, nifas, dan lain sebagainya
6. Sadar atau tidak sedang tidur
Syarat sah pelaksanaan sholat adalah sebagai berikut ini :
1. Masuk waktu sholat
2. Menghadap ke kiblat
3. Suci dari najis baik hadas kecil maupun besar
4. Menutup aurat
C. Rukun Shalat
Dalam sholat ada rukun-rukun yang harus kita jalankan, yakni :
1. Niat
2. Posisis berdiri bagi yang mampu
3. Takbiratul ihram
4. Membaca surat al-fatihah
5. Ruku / rukuk yang tumakninah
6. I'tidal yang tuma'ninah
7. Sujud yang tumaninah
8. Duduk di antara dua sujud yang tuma'ninah
9. Sujud kedua yang tuma'ninah
10. Tasyahud
11. Membaca salawat Nabi Muhammad SAW
12. Salam ke kanan lalu ke kiri
D. Yang Membatalkan Aktivitas Sholat Kita
Dalam melaksanakan ibadah salat, sebaiknya kita memperhatikan hal-hal yang mampu membatalkan shalat kita, contohnya seperti :
1. Menjadi hadas / najis baik pada tubuh, pakaian maupun lokasi
2. Berkata-kata kotor
3. Melakukan banyak gerakan di luar sholat bukan darurat
4. Gerakan sholat tidak sesuai rukun shalat dan gerakan yang tidak tuma'ninah.
“Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan yang suka menyucikan diri " (Al Baqarah : 222)
Saudaraku sekalian,
Dari ayat di atas jelaslah bahawa ALLAH amat menyukai orang-orang yang bertaubat dan juga mereka yang MENYUCIKAN DIRI. Untuk menyucikan diri ada beberapa perkara yang perlu kita tahu dan faham iaitu:
1) Jenis-jenis bersuci.
2) Jenis-jenis najis.
3) Jenis-jenis air.
Terdapat 3 jenis bersuci iaitu
1) Bersuci dari hadas kecil.
Apabila kita berada dalam keadaan hadas kecil, kita dilarang mengerjakan solat dan menyentuh al-Quran.Cara untuk bersuci ialah dengan mengambil wudhu'.
2) Bersuci dari hadas besar.
Apabila kita dalam keadaan hadas besar, solat, puasa, menunaikan haji, iktikaf di masjid dan menyentuh atau membaca al-Quran. Cara untuk bersuci alah dengan mandi junub (mandi wajib).
3) Istinjak
Bertujuan bagi menghilangkan najis yang keluar dari dua saluran iaitu qubul dan dubur.
Terdapat 3 jenis najis dalam Islam yang mana pembahagiannya adalah seperti berikut:
1) Najis Mukhaffafah
Hanya satu iaitu air kencing anak lelaki yang berumur kurang 2 tahun dan tidak minum atau makan selain dari susu ibunya sahaja. Cara menyucikan najis ini ialah dengan merenjis air pada tempat yang terkena najis dan lapkan sahaja.
2) Najis Mughallazah
Terdapat dua iaitu anjing dan babi serta segala anggota tubuhnya. Cara menyucikan ialah dengan dengan menyiram sekali air tanah atau lumpur dan dibilas 6 kali dengan air yang bersih.
3) Najis Mutawasitah
Ialah najis selain daripada 2 najis di atas. Cara penyuciannya terbahagi kepada dua:
(i)Hikmiah adalah najis yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya seperti air kencing yang sudah lama kering hinggakan sifatnya sudah hilang.Najis ini disucikan dengan mengalirkan air ke atasnya.
(ii)'Ainah adalah najis yang dicuci dengan menghilangkan dan membersihkan semua zatnya.
Jenis-jenis air terbahagi kepada 5 iaitu:
1) Air Mutlak.
Air yang suci lagi menyucikan. Air ini boleh digunakan untuk bersuci dan juga mengambil wudhu'.
2) Air Musta'mal
Air yang suci tapi tidak menyucikan contohnya air kopi, teh, kelapa, tebu dll. Air seperti ini boleh diminum tetapi tidak boleh digunakan untuk bersuci.
3) Air Muqaiyyad
Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci yang mengubah salah satu sifatnya sama ada dari segi warna, bau atau rasa yang menyebabkan air tersebut tidak dipanggil air mutlak lagi contohnya air mutlak yang telah bercampaur dengan air musta'mal. Air ini juga tidak boleh digunakan untuk bersuci.
4) Air Musyammas
Air yang suci lagi menyucikan tetapi makruh menggunakannya. Musyammas ialah air yang disimpan di dalam bekas logam dan terdedah kepada panas matahari. Air yang sedang panas itu makruh hukumnya digunakan untuk berwuduk dan bersuci daripada hadas.
5) Air Mutanajjis
Air yang telah terjatuh najis ke dalamnya sehingga berubah warna, bau atau rasa walaupun jika dicampur hingga kadar dua kolah. Tidak suci, tidak boleh diminum dan tidak boleh dibuat bersuci.
Saudaraku sekalian,
Dari ayat di atas jelaslah bahawa ALLAH amat menyukai orang-orang yang bertaubat dan juga mereka yang MENYUCIKAN DIRI. Untuk menyucikan diri ada beberapa perkara yang perlu kita tahu dan faham iaitu:
1) Jenis-jenis bersuci.
2) Jenis-jenis najis.
3) Jenis-jenis air.
Terdapat 3 jenis bersuci iaitu
1) Bersuci dari hadas kecil.
Apabila kita berada dalam keadaan hadas kecil, kita dilarang mengerjakan solat dan menyentuh al-Quran.Cara untuk bersuci ialah dengan mengambil wudhu'.
2) Bersuci dari hadas besar.
Apabila kita dalam keadaan hadas besar, solat, puasa, menunaikan haji, iktikaf di masjid dan menyentuh atau membaca al-Quran. Cara untuk bersuci alah dengan mandi junub (mandi wajib).
3) Istinjak
Bertujuan bagi menghilangkan najis yang keluar dari dua saluran iaitu qubul dan dubur.
Terdapat 3 jenis najis dalam Islam yang mana pembahagiannya adalah seperti berikut:
1) Najis Mukhaffafah
Hanya satu iaitu air kencing anak lelaki yang berumur kurang 2 tahun dan tidak minum atau makan selain dari susu ibunya sahaja. Cara menyucikan najis ini ialah dengan merenjis air pada tempat yang terkena najis dan lapkan sahaja.
2) Najis Mughallazah
Terdapat dua iaitu anjing dan babi serta segala anggota tubuhnya. Cara menyucikan ialah dengan dengan menyiram sekali air tanah atau lumpur dan dibilas 6 kali dengan air yang bersih.
3) Najis Mutawasitah
Ialah najis selain daripada 2 najis di atas. Cara penyuciannya terbahagi kepada dua:
(i)Hikmiah adalah najis yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zatnya seperti air kencing yang sudah lama kering hinggakan sifatnya sudah hilang.Najis ini disucikan dengan mengalirkan air ke atasnya.
(ii)'Ainah adalah najis yang dicuci dengan menghilangkan dan membersihkan semua zatnya.
Jenis-jenis air terbahagi kepada 5 iaitu:
1) Air Mutlak.
Air yang suci lagi menyucikan. Air ini boleh digunakan untuk bersuci dan juga mengambil wudhu'.
2) Air Musta'mal
Air yang suci tapi tidak menyucikan contohnya air kopi, teh, kelapa, tebu dll. Air seperti ini boleh diminum tetapi tidak boleh digunakan untuk bersuci.
3) Air Muqaiyyad
Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci yang mengubah salah satu sifatnya sama ada dari segi warna, bau atau rasa yang menyebabkan air tersebut tidak dipanggil air mutlak lagi contohnya air mutlak yang telah bercampaur dengan air musta'mal. Air ini juga tidak boleh digunakan untuk bersuci.
4) Air Musyammas
Air yang suci lagi menyucikan tetapi makruh menggunakannya. Musyammas ialah air yang disimpan di dalam bekas logam dan terdedah kepada panas matahari. Air yang sedang panas itu makruh hukumnya digunakan untuk berwuduk dan bersuci daripada hadas.
5) Air Mutanajjis
Air yang telah terjatuh najis ke dalamnya sehingga berubah warna, bau atau rasa walaupun jika dicampur hingga kadar dua kolah. Tidak suci, tidak boleh diminum dan tidak boleh dibuat bersuci.
Pengertian Istinjak
Istinjak Ialah menghilangkan najis kecil atau besar dari tempat keluarnya dengan sesuatu yang bersih seperti air, batu, kertas dan sebagainya sehingga kesan najis itu dibersihkan.
Apabila keluar kotoran dari salah satu, iaitu dari qubul atau dubur, wajib istinjak dengan menggunakan air atau dengan tiga ketul batu.
Hukum Istinjak
Beristinjak adalah hukumnya wajib berdasarkan Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud;
Bahawa Nabi (SAW) melalui dua buah kubur, ketika itu baginda berkata; 'kedua-dua orang ini (yang ada dalam kubur itu) diseksa oleh Allah . Yang seorang diseksa kerana mengumpat-gumpat orang dan yang seorang lagi diseksa kerana tidak beristinjak selepas buang air kecil.
(Hadis Riwayat; Bukhari dan Muslim)
Syarat-syarat Istinjak
1) Menghilangkan rasanya.
2) Menghilangkan baunya.
3) Menghilangkan warnanya.
Rukun Istinjak
1) Islam.
2) Alat untuk istinjak. Dengan menggunakan air, batu, kertas atau seumpamanya.
3) Tempat yang diistinjak iaitu qubul dan dubur.
4) Yang diistinjakkan itu sesuatu yang keluar daripada dua jalan iaitu qubul atau dubur.
Cara mengerjakan Istinjak
1) Istinjak itu 3 kali dan kalau masih belum suci, boleh diulang lagi sehingga suci.
2) Alat dibuat istinjak itu mestilah melingkupi tempat yang disapu itu.
3) Beristinjak itu mestilah dapat membersihkan tempat najis yang keluar.
Cara beristinjak dengan Air (Air Mutlak)
1) Tuangkan air dengan menggunakan tangan kanan di atas tempat najis.
2) Gosok tempat najis dengan menggunakan jari tengah tangan kiri.
3) Makruh memasukkan jari ke dalam dubur.
4) Bagi perempuan yang dara semasa beristinjak hendaklah membasuh benda yang zahir pada farajnya ketika ia duduk mencangkung dengan memasukkan sedikit ruas jarinya.*
5) Mendahulukan istinjak pada qubul daripada dubur supaya tidak terpercik najis padanya ketika membasuh dubur.
6) Sunat selepas intinjak menggosak tangan ke tanah sebelum membasuh tangan.
7) Sunat ketika intinjak membaca doa :
Ertinya ; "Ya Allah, sucikanlah hatiku daripada sifat nifak dan peliharakanlah kemaluan aku daripada kejahatan."
8) Tidak sunat mencium tangan selepas istinjak.
9) Hendaklah hilang ain najis, warna dan rasanya (rasa di tangan). Jika sukar menghilangkan baunya atau warnanya selepas digosak dan dibasuh beberapa kali maka ianya dimaafkan. Bagi memastikan najis telah suci memadai bila merasai kesat pada kulit dubur lelaki dan licin bagi perempuan.*
Cara yang baik dilakukan istinjak ialah dengan menggunakan air, tetapi harus juga dilakukan dengan benda-benda kesat yang suci dengan syarat.
1) Benda itu mesti kering sama ada kayu, batu, daun dan lain-lain. Kalau ia basah, maka tidak boleh digunakan.
2) Benda itu mesti kesat. Kalau kering tetapi licin maka tidak sah untuk istinjak seperti kertas atau plastik atau belakang buluh.
3) Benda itu bukan benda yang dihormati seperti makanan, pakaian, tulang atau seumpamanya.
4) Bukan benda-benda yang bertulis dengan ayat-ayat al-quran, hadis dan seumpamanya. Sekiranya ada , berdosa menggunakannya.
5) Najis yang keluar tidak melecer ke tempat lain. Sekiranya ia melecer ke tempat lain maka air diperlukan untuk beristinjak.
6) Hendaklah dihilangkan najis itu sekurang-kurangnya dengan tiga ketul batu ataupun dengan sebiji batu tiga persegi. Sekiranya masih tidak suci, hendaklah ditambah batu sehingga suci.
Cara Beristinjak dengan menggunakan batu pada dubur
1) Sunat dimulai dengan menyapu yang pertama pada bahagian hadapan papan punggung yang kanan lalu diedarkan pada tempat permulaan sapuan.
2) Kemudian mulakan sapuan yang kedua pada bahagian hadapan papan punggung kiri lalu diedarkan kepada tempat permulaan yang disapu.
3) Sapuan yang ketiga pada hujung dubur atau qubul.
4) Sunat ketika menyapu dimulai pada tempat yang suci ke tempat yang ada najis secara perlahan-lahan.
5) Sunat istinjak dengan batu, dahulukan istinjak pada dubur kerana najis pada dubur lebih dahulu kering daripada qubul. Jika najis telah kering, wajib menggunakan air.
Cara Istinjak Dengan Batu Pada Qubul ( Zakar atau Faraj)
Disapu di tiga tempat pada batu besar atau tiga ketul batu. Jika diulang-ulang di tempat yang sama dengan satu batu, maka wajib beristinjak dengan menggunakan air.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika insinjak
1) Jangan bersuci dengan tulang, makanan atau tahi kering.
2) Jangan bersuci dengan menggunakan tangan kanan atau memegang zakar dengan tangan kanan.
3) Hendaklah bersuci dengan batu dalam bilangan ganjil, seperti tiga ketul batu, lima ketul batu dan sebagainya.
4) Bila bersuci dengan air dan batu, hendaklah menggunakan batu terlebih dahulu, kemudian dengan air, bila memilih salah satu, pilihlah air kerana air lebih baik digunakan untuk bersuci.
InsyaALLAH akan bersambung lagi.
Istinjak Ialah menghilangkan najis kecil atau besar dari tempat keluarnya dengan sesuatu yang bersih seperti air, batu, kertas dan sebagainya sehingga kesan najis itu dibersihkan.
Apabila keluar kotoran dari salah satu, iaitu dari qubul atau dubur, wajib istinjak dengan menggunakan air atau dengan tiga ketul batu.
Hukum Istinjak
Beristinjak adalah hukumnya wajib berdasarkan Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud;
Bahawa Nabi (SAW) melalui dua buah kubur, ketika itu baginda berkata; 'kedua-dua orang ini (yang ada dalam kubur itu) diseksa oleh Allah . Yang seorang diseksa kerana mengumpat-gumpat orang dan yang seorang lagi diseksa kerana tidak beristinjak selepas buang air kecil.
(Hadis Riwayat; Bukhari dan Muslim)
Syarat-syarat Istinjak
1) Menghilangkan rasanya.
2) Menghilangkan baunya.
3) Menghilangkan warnanya.
Rukun Istinjak
1) Islam.
2) Alat untuk istinjak. Dengan menggunakan air, batu, kertas atau seumpamanya.
3) Tempat yang diistinjak iaitu qubul dan dubur.
4) Yang diistinjakkan itu sesuatu yang keluar daripada dua jalan iaitu qubul atau dubur.
Cara mengerjakan Istinjak
1) Istinjak itu 3 kali dan kalau masih belum suci, boleh diulang lagi sehingga suci.
2) Alat dibuat istinjak itu mestilah melingkupi tempat yang disapu itu.
3) Beristinjak itu mestilah dapat membersihkan tempat najis yang keluar.
Cara beristinjak dengan Air (Air Mutlak)
1) Tuangkan air dengan menggunakan tangan kanan di atas tempat najis.
2) Gosok tempat najis dengan menggunakan jari tengah tangan kiri.
3) Makruh memasukkan jari ke dalam dubur.
4) Bagi perempuan yang dara semasa beristinjak hendaklah membasuh benda yang zahir pada farajnya ketika ia duduk mencangkung dengan memasukkan sedikit ruas jarinya.*
5) Mendahulukan istinjak pada qubul daripada dubur supaya tidak terpercik najis padanya ketika membasuh dubur.
6) Sunat selepas intinjak menggosak tangan ke tanah sebelum membasuh tangan.
7) Sunat ketika intinjak membaca doa :
Ertinya ; "Ya Allah, sucikanlah hatiku daripada sifat nifak dan peliharakanlah kemaluan aku daripada kejahatan."
8) Tidak sunat mencium tangan selepas istinjak.
9) Hendaklah hilang ain najis, warna dan rasanya (rasa di tangan). Jika sukar menghilangkan baunya atau warnanya selepas digosak dan dibasuh beberapa kali maka ianya dimaafkan. Bagi memastikan najis telah suci memadai bila merasai kesat pada kulit dubur lelaki dan licin bagi perempuan.*
Cara yang baik dilakukan istinjak ialah dengan menggunakan air, tetapi harus juga dilakukan dengan benda-benda kesat yang suci dengan syarat.
1) Benda itu mesti kering sama ada kayu, batu, daun dan lain-lain. Kalau ia basah, maka tidak boleh digunakan.
2) Benda itu mesti kesat. Kalau kering tetapi licin maka tidak sah untuk istinjak seperti kertas atau plastik atau belakang buluh.
3) Benda itu bukan benda yang dihormati seperti makanan, pakaian, tulang atau seumpamanya.
4) Bukan benda-benda yang bertulis dengan ayat-ayat al-quran, hadis dan seumpamanya. Sekiranya ada , berdosa menggunakannya.
5) Najis yang keluar tidak melecer ke tempat lain. Sekiranya ia melecer ke tempat lain maka air diperlukan untuk beristinjak.
6) Hendaklah dihilangkan najis itu sekurang-kurangnya dengan tiga ketul batu ataupun dengan sebiji batu tiga persegi. Sekiranya masih tidak suci, hendaklah ditambah batu sehingga suci.
Cara Beristinjak dengan menggunakan batu pada dubur
1) Sunat dimulai dengan menyapu yang pertama pada bahagian hadapan papan punggung yang kanan lalu diedarkan pada tempat permulaan sapuan.
2) Kemudian mulakan sapuan yang kedua pada bahagian hadapan papan punggung kiri lalu diedarkan kepada tempat permulaan yang disapu.
3) Sapuan yang ketiga pada hujung dubur atau qubul.
4) Sunat ketika menyapu dimulai pada tempat yang suci ke tempat yang ada najis secara perlahan-lahan.
5) Sunat istinjak dengan batu, dahulukan istinjak pada dubur kerana najis pada dubur lebih dahulu kering daripada qubul. Jika najis telah kering, wajib menggunakan air.
Cara Istinjak Dengan Batu Pada Qubul ( Zakar atau Faraj)
Disapu di tiga tempat pada batu besar atau tiga ketul batu. Jika diulang-ulang di tempat yang sama dengan satu batu, maka wajib beristinjak dengan menggunakan air.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika insinjak
1) Jangan bersuci dengan tulang, makanan atau tahi kering.
2) Jangan bersuci dengan menggunakan tangan kanan atau memegang zakar dengan tangan kanan.
3) Hendaklah bersuci dengan batu dalam bilangan ganjil, seperti tiga ketul batu, lima ketul batu dan sebagainya.
4) Bila bersuci dengan air dan batu, hendaklah menggunakan batu terlebih dahulu, kemudian dengan air, bila memilih salah satu, pilihlah air kerana air lebih baik digunakan untuk bersuci.
InsyaALLAH akan bersambung lagi.
Tata cara Buang Air dalam Islam, yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Hendaknya buang air di tempat tertutup.
2. Masuklah ke Kamar Kecil / WC dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan.
3. Hendaklah buang air di tempat yang jauh dari orang banyak sehingga tidak
mengganggu mereka.
4. Jangan buang air di lobang lobang tanah, karena dikhawatirkan menyakiti
binatang yang ada di dalamnya.
5. Jangan buang air di air tergenang.
6. Jangan buang air di air di bawah pohon yang sedang berbuah.
7. Jangan buang air di air di tempat yang biasa dipakai untuk berteduh.
8. Jangan berbicara, kecuali dalam keadaan terpaksa.
9. Jangan membawa atau membaca ayat al-Qur'an, atau benda yang ada tulisan nama
Allah.
10. Jika terpaksa buang air di tempat terbuka, maka jangan menghadap kiblat atau
membelakanginya.
11. Membaca do'a ketika masuk dan ketika keluar Kamar Kecil / WC.
Detail Doa Masuk dan Keluar WC......
Doa Masuk Kamar Kecil / WC.
BISMILLAAHI A'UUDZU BILLAAHI MINARRIJSIN NAJISIL KHABIITSIL MUKHBITSISY SYAITHANIR RAJIIM.
Artinya:
"Dengan nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari kotoran yang najis, keji dan jahat, yaitu syetan yang terkutuk."
Atau:
1. Hendaknya buang air di tempat tertutup.
2. Masuklah ke Kamar Kecil / WC dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan.
3. Hendaklah buang air di tempat yang jauh dari orang banyak sehingga tidak
mengganggu mereka.
4. Jangan buang air di lobang lobang tanah, karena dikhawatirkan menyakiti
binatang yang ada di dalamnya.
5. Jangan buang air di air tergenang.
6. Jangan buang air di air di bawah pohon yang sedang berbuah.
7. Jangan buang air di air di tempat yang biasa dipakai untuk berteduh.
8. Jangan berbicara, kecuali dalam keadaan terpaksa.
9. Jangan membawa atau membaca ayat al-Qur'an, atau benda yang ada tulisan nama
Allah.
10. Jika terpaksa buang air di tempat terbuka, maka jangan menghadap kiblat atau
membelakanginya.
11. Membaca do'a ketika masuk dan ketika keluar Kamar Kecil / WC.
Detail Doa Masuk dan Keluar WC......
Doa Masuk Kamar Kecil / WC.
BISMILLAAHI A'UUDZU BILLAAHI MINARRIJSIN NAJISIL KHABIITSIL MUKHBITSISY SYAITHANIR RAJIIM.Artinya:
"Dengan nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari kotoran yang najis, keji dan jahat, yaitu syetan yang terkutuk."
Atau:
ALLAHUMMA INNII A'UDZU BIKA MINAL KHUBUTSHI WAL KHABAA'ITS
Artinya :
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki - laki dan syetan perempuan."
Doa Keluar dari Kamar Kecil / WC.
GHUFRAANAKAL HAMDU LILLAAHIL LADZII ADZHABA ANNII MAA YU'DZIINII WA ABQAA FIYYA MAA YANFA'UNII.
Artinya:
"(Aku memohon) ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dari diriku segala perkara yang menyakitkan aku dan memelihara segala perkara yang bermanfaat bagiku."
Artinya :
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki - laki dan syetan perempuan."
Doa Keluar dari Kamar Kecil / WC.
GHUFRAANAKAL HAMDU LILLAAHIL LADZII ADZHABA ANNII MAA YU'DZIINII WA ABQAA FIYYA MAA YANFA'UNII.Artinya:
"(Aku memohon) ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dari diriku segala perkara yang menyakitkan aku dan memelihara segala perkara yang bermanfaat bagiku."
Hukum Mandi.
Bagi orang yang akan melakukan shalat, tidak sah sholatnya jika masih mempunyai hadast besar.
Hadast besar adalah hadast yang disebabkan oleh Bersetubuh, Keluarmani, haid, nifas, dan melahirkan. Hadast besar dapat dihilangkan dengan mandi junub / janabat / mandi wajib / mandi hadast besar. Hukum mandi besar adalah wajib.
Sebab - sebab yang mewajibkan mandi Junub.......
Sebab - sebab yang mewajibkan mandi Junub adalah:
- Bersetubuh (walaupun tidak keluar air mani)
- Keluar air mani (baik karena bersetubuh maupun karena mimpi atau sebab lainnya)
- Mati yang bukan Syahid (Orang mati syahid tidak wajib dimandikan)
- Selesai haid (menstruasi)
- Selesai Nifas
- Wiladah (melahirkan).
Ciri - ciri Air Mani adalah:
- keluarnya dari Kubul dengan memancar (tersendat-sendat).
- Saat keluar terasa Nikmat.
- Baunya:
a. Jika masih basah seperti bau adonan roti atau bau mayang korma.
b. Jika sudah kering seperti bau putih telur.
Fardhu Mandi Besar / Junub ada 3 yaaitu:
1. Niat.
Niat ini dibaca dalam hati pada saat mulai membasuh bagian manapun dari tubuh.
Lafadz Niat Mandi Besar adalah:

NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBARI FARDHAN LILLAAHI TA'AALAA.
Artinya:
"Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah Taala."
2. Membasuh seluruh tubuh dengan air sampai rata (serta rambut dan kulitnya harus terkena air).
3. Menghilangkan Najist jika ada yang menempel pada tubuh.
Sunat Mandi ada 5, yaitu:
1. Membaca Basmalah ("Bismillahir rahmaanir rahiim pada saat akan mulai mandi.
2. Berwudhu (sebelum mandi) seperti wudhu hendak sholat.
3. Membasuh (menggosok) badan dengan tangan sampai 3 kali.
4. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.
5. Muwalat, yaitu sambung menyambung dalam membasuh anggota badan.
MANDI SUNAT
Selain mandi wajib, ada beberapa mandi yang disunatkan, yaitu:
- Mandi ketika hendak Sholat Jumat.
- Mandi ketika hendak Sholat Idul Fitri.
- Mandi ketika hendak Sholat Idul Adha.
- Mandi setelah sembuh dari penyakit gila.
- Mandi ketika hendak melaksanakan ihram haji atau umrah.
- Mandi setelah memandikan mayat.
- Mandi seorang kafir setelah masuk islam.
Larangan bagi orang yang mempunyai Hadast Besar:
A. Larangan bagi orang yang sedang Junub:
- Mendirikan Sholat, baik shalat wajib / sunat.
- Mengerjakan Thawaf (Thawaf rukun haji / sunat).
- Menyentuh / membawa Al-quran.
- Berhenti lama (berdiam di masjid) / Itikaf.
B. Larangan bagi orang yang sedang Haid / Nifas:
-Semua larangan point2 diatas.
- Di cerai (ditalak)
- Berpuasa (wajib / sunat)
- Bersetubuh
- Bersenang - senang antara pusar perut dan lutut.
- Menyeberangi mesjid jika khawatir mengotorinya dengan darah.
Bagi orang yang akan melakukan shalat, tidak sah sholatnya jika masih mempunyai hadast besar.
Hadast besar adalah hadast yang disebabkan oleh Bersetubuh, Keluarmani, haid, nifas, dan melahirkan. Hadast besar dapat dihilangkan dengan mandi junub / janabat / mandi wajib / mandi hadast besar. Hukum mandi besar adalah wajib.
Sebab - sebab yang mewajibkan mandi Junub.......
Sebab - sebab yang mewajibkan mandi Junub adalah:
- Bersetubuh (walaupun tidak keluar air mani)
- Keluar air mani (baik karena bersetubuh maupun karena mimpi atau sebab lainnya)
- Mati yang bukan Syahid (Orang mati syahid tidak wajib dimandikan)
- Selesai haid (menstruasi)
- Selesai Nifas
- Wiladah (melahirkan).
Ciri - ciri Air Mani adalah:
- keluarnya dari Kubul dengan memancar (tersendat-sendat).
- Saat keluar terasa Nikmat.
- Baunya:
a. Jika masih basah seperti bau adonan roti atau bau mayang korma.
b. Jika sudah kering seperti bau putih telur.
Fardhu Mandi Besar / Junub ada 3 yaaitu:
1. Niat.
Niat ini dibaca dalam hati pada saat mulai membasuh bagian manapun dari tubuh.
Lafadz Niat Mandi Besar adalah:

NAWAITUL GHUSLA LIRAF'IL HADATSIL AKBARI FARDHAN LILLAAHI TA'AALAA.
Artinya:
"Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah Taala."
2. Membasuh seluruh tubuh dengan air sampai rata (serta rambut dan kulitnya harus terkena air).
3. Menghilangkan Najist jika ada yang menempel pada tubuh.
Sunat Mandi ada 5, yaitu:
1. Membaca Basmalah ("Bismillahir rahmaanir rahiim pada saat akan mulai mandi.
2. Berwudhu (sebelum mandi) seperti wudhu hendak sholat.
3. Membasuh (menggosok) badan dengan tangan sampai 3 kali.
4. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.
5. Muwalat, yaitu sambung menyambung dalam membasuh anggota badan.
MANDI SUNAT
Selain mandi wajib, ada beberapa mandi yang disunatkan, yaitu:
- Mandi ketika hendak Sholat Jumat.
- Mandi ketika hendak Sholat Idul Fitri.
- Mandi ketika hendak Sholat Idul Adha.
- Mandi setelah sembuh dari penyakit gila.
- Mandi ketika hendak melaksanakan ihram haji atau umrah.
- Mandi setelah memandikan mayat.
- Mandi seorang kafir setelah masuk islam.
Larangan bagi orang yang mempunyai Hadast Besar:
A. Larangan bagi orang yang sedang Junub:
- Mendirikan Sholat, baik shalat wajib / sunat.
- Mengerjakan Thawaf (Thawaf rukun haji / sunat).
- Menyentuh / membawa Al-quran.
- Berhenti lama (berdiam di masjid) / Itikaf.
B. Larangan bagi orang yang sedang Haid / Nifas:
-Semua larangan point2 diatas.
- Di cerai (ditalak)
- Berpuasa (wajib / sunat)
- Bersetubuh
- Bersenang - senang antara pusar perut dan lutut.
- Menyeberangi mesjid jika khawatir mengotorinya dengan darah.
Sebab-sebab Tayamum
Ada 3 hal
1. Tidak adanya air
2. Sakit
3. Karena ada hayawan(makhluk hidup yg d mulyakan syara) yang memerlukan air(kehausan)
Hayawan yang tidak di mulyakan oleh syara ada 6
1. Orang yang tinggal sholat
2. Orang yang berzina muhson
3. Orang murtad
4. Orang kafir yang memusuhi orang islam
5. Anjing galak
6. Babi
Jadi, apabila menemukan yang 6 tadi jika mereka kehausan jangan di beri air pakailah untuk berwudlu.
Syarat-syarat Tayamum
Ada 10
1. Harus memakai tanah
2. Tanahnya harus suci
3. Tanahnya masih baru (jangan yang sudah di pakai)
4. Tanahnya jangan tercampur dengan tepung dan sejenisny
5. Harus bermaksud untuk tayamum
6. Harus mengusap tanah pada wajah dan kedua tangannya dengan 2 usapan
7. Menghilangkan najis sebelum tayamum
8. Menghadap kiblat sebelum tayamum
9. Bertayamum sesudah masuk waktu sholat
10. Bertayamum pada tiap waktu sholat fardu
Fardu-fardu Tayamum
Ada 5
1. Mengambil tanah
2. Niat
3. Mengusap wajah
4. Mengusap kedua tangan sampai sikut
5. Tartib antara 2 usapan
Yang Membatalkan Tayamum
Ada 3
1. Perkara yang membatalkan wudlu
2. Murtad
3. Menemukan air {karena bertayamum itu tidak ada air}
Ada 3 hal
1. Tidak adanya air
2. Sakit
3. Karena ada hayawan(makhluk hidup yg d mulyakan syara) yang memerlukan air(kehausan)
Hayawan yang tidak di mulyakan oleh syara ada 6
1. Orang yang tinggal sholat
2. Orang yang berzina muhson
3. Orang murtad
4. Orang kafir yang memusuhi orang islam
5. Anjing galak
6. Babi
Jadi, apabila menemukan yang 6 tadi jika mereka kehausan jangan di beri air pakailah untuk berwudlu.
Syarat-syarat Tayamum
Ada 10
1. Harus memakai tanah
2. Tanahnya harus suci
3. Tanahnya masih baru (jangan yang sudah di pakai)
4. Tanahnya jangan tercampur dengan tepung dan sejenisny
5. Harus bermaksud untuk tayamum
6. Harus mengusap tanah pada wajah dan kedua tangannya dengan 2 usapan
7. Menghilangkan najis sebelum tayamum
8. Menghadap kiblat sebelum tayamum
9. Bertayamum sesudah masuk waktu sholat
10. Bertayamum pada tiap waktu sholat fardu
Fardu-fardu Tayamum
Ada 5
1. Mengambil tanah
2. Niat
3. Mengusap wajah
4. Mengusap kedua tangan sampai sikut
5. Tartib antara 2 usapan
Yang Membatalkan Tayamum
Ada 3
1. Perkara yang membatalkan wudlu
2. Murtad
3. Menemukan air {karena bertayamum itu tidak ada air}
Fardu wudlu (wajib Wudlu)
ada 6 :
1. Niat
2. Membasuh muka yg namanya muka dari atas tumbuhnya rambut,dari samping pentil telinga,dari bawah sampai dagu.
3. Membasuh tangan dua-duanya sampai sikunya.
4. Mengusap kulit kepala atau satu lembar rambut yang belum keluar dari hadnya(batasnya) kepala.
5. Membasuh kaki dua-duanya sampai mata kaki.
6. Tartib.
Niat adalah bermaksud melaksanakan suatu perkara sembari (serta) melakukanya.Tempatnya niat adalah hati sedangkan mengucapkanya adalah sunat. Waktunya niat adalah ketika membasuh salah satu anggota muka(ketika air mengenai muka).
Tartib adalah mendahulukan anggota wudlu yang pertama dan berurutan. contohnya niat sebelum membasuh muka.
YANG MEMBATALKAN WUDLU
ada 4 yaitu :
1. Ada yang keluar dari kubul (lubang kencing) dan dubur (anus) contohnya angin (kentut) atau selain angin (darah).
2. Hilang akal contohnya tidur atau pingsan. Tapi tidak batal orang yang tidur sambil duduk yang pinggulnya tetap nempel d lantai.
3. bersentuhan kulit kaki-laki dengan perempuan tanpa ada penghalang. Yang mana mereka berdua sudah baligh.
4. Memegang kepunyaan anak adam (kita sendiri) dengan telapak tangan atau telapak jari tangan.
>>AIR
Air terbagi 2 yaitu :
1. Air sedikit yaitu air yang kurang dari 2 kulak. Hukumnya apabila ketibanan najis airnya jadi mutanajis sehingga tidak dapat di pake bersuci (wudlu,adus,dll) meskipun tidak merubah warna, rasa, dan baunya.
2. Air besar yaitu air yang ada 2 kulak atau lebih. Hukumnya tidak jadi mutanajis sehingga sah dipakai bersuci (wudlu,adus,dll) kecuali berubah warna,rasa,dan baunya.
ada 6 :
1. Niat
2. Membasuh muka yg namanya muka dari atas tumbuhnya rambut,dari samping pentil telinga,dari bawah sampai dagu.
3. Membasuh tangan dua-duanya sampai sikunya.
4. Mengusap kulit kepala atau satu lembar rambut yang belum keluar dari hadnya(batasnya) kepala.
5. Membasuh kaki dua-duanya sampai mata kaki.
6. Tartib.
Niat adalah bermaksud melaksanakan suatu perkara sembari (serta) melakukanya.Tempatnya niat adalah hati sedangkan mengucapkanya adalah sunat. Waktunya niat adalah ketika membasuh salah satu anggota muka(ketika air mengenai muka).
Tartib adalah mendahulukan anggota wudlu yang pertama dan berurutan. contohnya niat sebelum membasuh muka.
YANG MEMBATALKAN WUDLU
ada 4 yaitu :
1. Ada yang keluar dari kubul (lubang kencing) dan dubur (anus) contohnya angin (kentut) atau selain angin (darah).
2. Hilang akal contohnya tidur atau pingsan. Tapi tidak batal orang yang tidur sambil duduk yang pinggulnya tetap nempel d lantai.
3. bersentuhan kulit kaki-laki dengan perempuan tanpa ada penghalang. Yang mana mereka berdua sudah baligh.
4. Memegang kepunyaan anak adam (kita sendiri) dengan telapak tangan atau telapak jari tangan.
>>AIR
Air terbagi 2 yaitu :
1. Air sedikit yaitu air yang kurang dari 2 kulak. Hukumnya apabila ketibanan najis airnya jadi mutanajis sehingga tidak dapat di pake bersuci (wudlu,adus,dll) meskipun tidak merubah warna, rasa, dan baunya.
2. Air besar yaitu air yang ada 2 kulak atau lebih. Hukumnya tidak jadi mutanajis sehingga sah dipakai bersuci (wudlu,adus,dll) kecuali berubah warna,rasa,dan baunya.












